Sabtu, 11 Desember 2010

Indescribable Life

God has a plan for each of us, that's why we're born in the world.



It's me, when I was still little, less than 1 year I think :)
How chubby I am there!
Hahaha.

Well, time flies, dear.
Fourteen years have passed since I cried at the hospital with my dad and mom, looked at the world for the first time :)

It was like, the world stared at me and said, "Welcome to the world, baby, feel the craziness from now on."

Yeah, I've grown, standing here in the middle of the world.
Living my life with these dreams, wishes, prayers.

Many things have changed, but life still goes on.
That time, maybe I was just crying because of wounded knee, but now everything seems harder.
But, yeah, time doesn't matter, life must go on.

I'm still here, can't do anything except living my life.
I just have two choices; whether I'll live the life with smile, or with tears.
The first choice is definitely the best :)

And I'm standing here... with a smile.
Believing that God has planned everything for me, for the best.

I know, He's hugging my dreams, holding my wishes, and answering my prayers.

What about you? :)

Jumat, 10 Desember 2010

10.12.10

So, here I am.
Sitting here, just don't know what to say...
Because everything looks so unbelievable.

OH MY GOD.

***



Mélodie d'Amour
.

Entah sudah berapa bulan aku terombang-ambing di sini, antara ya dan tidak.
Berusaha memacu diri untuk maju, namun apa daya tembok seringkali menghalau.
Tapi semuanya tetap, dan masih ada di sini, sampai...

Sampai aku tiba di titik ini.
Melayangkan pandang ke lingkup angkasa yang luas tak terperi, menatap lurus-lurus ke bintangku, yang aku yakin, sedang menungguku di atas sana.
Bintang itu sudah ada di atas sana.
Hanya tinggal menungguku, menungguku untuk menangkapnya.
Itu saja.

Mélodie d'Amour memang kini telah ada dalam perjalanannya, namun aku masih terus meniti langkah.
Merangkai langkah demi langkah, memang tak tahu seberapa jauh aku dan bintang terpisah, namun hanya maju, meyakininya...

Aku masih seorang gadis yang sama.
Seorang gadis yang menaruh hatinya pada dunia menulis.
Seorang gadis yang, sayangnya, memang tak akan pernah tahu apa yang terjadi.

Aku tak tahu, apakah kali ini saatnya.
Aku telah terbang ke bintang, tak tahu di mana ujungnya mimpi ini...

Ah, jangan kira aku lupa.
Mungkinkah? Saat itu, saat di mana aku kali pertama berani mengepakkan sayap.
Namun, saat itu, jawabannya memang tidak...

Sekarang?
Aku tak pernah tahu, tak akan pernah tahu sebelum waktunya tiba.
Aku tak tahu apa, namun aku tahu bagaimana...

Setidaknya aku telah memulai kembali perjalanan ini, tak tahu di mana ujungnya, hanya ingin terbang, sedikit takut untuk terhempas, namun tak bisa lagi berhenti...

Inilah aku.
Di sini, ada di sini.
Ada dalam perjalanan ini.

Mungkinkah?

***

Hei, ingatkah kau dengan sedikit cerita yang mengawali perjalanannya?
Detak jantung itu, Detak Jantung Sebuah Novel Tak Bernama.

Jadi, meski memang sedikit terlambat, ia sudah bertumbuh dewasa, tentu saja.
Inilah kisahnya, Kawan.



Sejumlah 128 halaman, ia pun keluar dari cangkangnya, setelah diolah sedimikian rupa sejak 23 November 2010 - 22:38.
Ia pun bersiap untuk tumbuh menjadi dewasa sepenuhnya, tepat hari itu, 8 Desember 2010.




Keesokan harinya - 9 Desember 2010 - oleh sang penulis, ia dibawa pergi pada ahlinya untuk didandani sedemikian rupa, seperti potret di atas.
Diberi baju, dipoles bagaimana pun caranya agar ia tampak sempurna saat keluar menjadi sosok dewasa yang akan segera terbang jauh, berkelana.

Dan, ABAKADABRA!




Tiba saatnya, pukul 12:01 hari itu, ia pun tumbuh dewasa.
Kurang lebih 24 jam lagi, ia akan terbang, jauh ke ujung sana...

Malam hari itu mungkin adalah malam terakhirnya bersama sang penulis.
Penulis itu tak tahu apa yang ada di depannya, namun ia sudah bertekad, untuk selalu menggantungkan harapannya, apa pun yang terjadi...



Ya, ya, ia meneguhkan hati, apa pun yang terjadi...


Terbanglah...


Terbanglah jauh.

Kamis, 09 Desember 2010

Tomorrow, Baby!

Tomorrow will be a super day for me.
Srsly. :)

First, aku bakal ngirim Mélodie d'Amour ke GagasMedia.
YAYYY FINALLY! :D
Cerita lengkapnya besok aja. :)
Psst, sedikit bocoran, aku mencatat waktu-waktu yang sebenarnya nggak penting, tapi menurutku penting - contohnya, jam dan menit di mana Si Mélodie d'Amour selesai dijilid.

Second, yeah, our secret mission!
Tapi tadi ada yang sedikit bermasalah di laptopnya Clara, jadi ga bisa. :(
Tapi overall udah jadi kok, tinggal...
Oh ya, aku ga boleh bocorin rahasia. :p

Wish me luck, and with them luck too, karena kayaknya mereka yang bakal ngurusin hal 'B' sementara aku meng-handle hal 'A'.
We're running out of time. O.O

YABADABADOOOOO!

Thank You, Lord

Yeah.
Thank you, Lord.
Thank you, Lord, for giving me this precious and unforgettable life lesson. :)

Hari ini aku belajar sesuatu.
Ya, lagi-lagi tentang poin-poin kehidupan yang entah di mana ujungnya.
Namun, Tuhan sudah membawa aku ke titik ini, dan aku bersyukur, benar-benar bersyukur karena Ia membuat aku mengerti.

Pertandingan basket.
Ya, semuanya berawal dari situ.

Pertandingan ini bukan tentang aku, tapi tentang kami.
Tentang kelas 9.
Di mana kita berjuang bersama-sama untuk teman-teman kelas 9, yang sudah ada di hati ini sejak belasan tahun yang lalu.

Kami kenal cukup dekat dengan teman-teman kelas 8 yang menjadi lawan kami hari ini.
Karena itu, kami nggak mau meremehkan, walau orang-orang sudah bilang kalau kelas 9 pasti menang.
Well...

Oke, jangan kira aku santai, atau gimana.
Aku juga nggak berbakat, hahaha, aku tahu itu.
Tapi ini tentang pertandingan yang mungkin merupakan yang terakhir di SMP, sekaligus kesempatan bermain yang terakhir kali bersama teman-teman yang, yeah, mungkin bakalan pisah sekolah sama aku.

Alhasil, kemarin malam dan malam sebelumnya aku banyak teleponan dengan Dea, juga chat dengan Fefe.
Mengatur strategi, yeah, and so on.

Dunia basket ini sempat melayangkanku dan Dea ke masa-masa berharga itu - DBL.
Setiap kata yang aku tuliskan di sini nggak akan pernah mewakili, percayalah.
Kami ingat benar, terutama kami berdua, yang pulang jam 10 malam, telepon sana-sini, mengurus hal ini-itu karena guru-guru nggak bisa mendampingi, sampai jatuh-bangun di lapangan biru itu, kami berdua ingat dengan sangat-sangat jelas.

Waktu itu, well, mungkin memang saat-saat di mana Tuhan menguji kita.
Tapi aku bersyukur, bersyukur sekali.
Melalui DBL itu aku belajar untuk nggak perlu khawatir berlebihan, dan berserah pada Tuhan sepenuhnya.
Filipi 4:6, seperti kata teman-teman DBL saat itu.

Aku dan Dea masih asyik berbincang, dan tiba-tiba dia menceritakan isi doanya padaku.
Dea bilang, dia nggak akan minta untuk menang, semuanya terserah Tuhan, tapi toh Tuhan tahu apa yang kita inginkan.
Kita berusaha yang terbaik, sisanya urusan Tuhan.

Well, siapa yang nggak mau menang, coba?
Tapi tetap saja.
Pasti ada pihak yang menang, ada pihak yang kalah.
Di samping bagaimana usaha kita, sisanya di tangan Tuhan.

Babak pertama, yeah, kita sudah ketinggalan.
Aku ngos-ngosan, dalam hati merutuki diri kenapa udah jarang menyentuh bola basket pasca DBL.
Aku tahu aku memang nggak bakat di bidang itu, tapi setidaknya, seharusnya aku latihan lebih keras...

Babak kedua, aku melihat jelas wajah-wajah itu.
Felia, Fefe, dan Dea, terutama.
Wajah-wajah ingin menang, wajah-wajah ingin maju.
Aku pun juga begitu.
Kembali lagi, siapa yang tak ingin menang?

Melalui Felia, kami memang mengejar beberapa kali.
Tapi yeah, seperti yang aku bilang tadi, sisanya urusan Tuhan...
Dan kali ini Tuhan sedangkan menyalakan lampu merah.

Aku coba menghibur diri, bilang kalau toh aku memang sudah jarang latihan dan tiba-tiba langsung begini, jadi aku sudah do the best.
Tapi semua yang aku upayakan itu terasa masih belum cukup...
Sampai aku ingat doaku dan doa Dea tadi malam.

Thank You, Lord.
We lost.
Thank you, thank you for giving me these experiences.

Tidak selamanya kemenangan selalu menjadi pelajaran hidup.
Tidak selamanya, Kawan.
Dan well, menurutku sih, pelajaran-pelajaran paling berharga justru kita dapat di saat-saat yang bisa dibilang, worst time, seperti sekarang ini.

Basket memang bukan panggilan hidupku (HAHAHA!), tapi aku bersyukur karena Tuhan sudah memberi kesempatan buat aku untuk ikut dalam ajang-ajang seperti ini.
Aku memang tidak lantas menjadi sehebat Michael Jordan, tapi aku dapat pelajaran yang lebih dari itu.

Untuk tidak takut mencoba hal-hal baru, untuk menjadi semakin dewasa, untuk semakin dekat dengan teman-teman, dan yang terutama, untuk semakin dekat dengan Tuhan.

Thank You, Lord. :)

Dan untuk cowok-cowok kelas 9, congrats, you did it!
Tak terkecuali, untuk teman-teman putri kelas 8, congrats too, keep going. :)
Kalian masih punya hutang di DBL 2011, ingat? :P

***

Filipi 4:6.
Pengkhotbah 3:11.

Itu ayat-ayat yang sempat, dan selalu, menguatkan aku dan teman-teman DBL.
Semoga memberkati :)
Hahaha.

Selasa, 07 Desember 2010

Lantern



Have you watched Rapunzel - Tangled Tale? I did. And I think, all of us are just the same as her, Rapunzel.

Ah ya, seperti yang aku bilang di post sebelumnya.
Benar.
Tentang bagaimana tidak sabarnya aku mengulas film ini, sampai diameter hidungku melebar bak Maximus.
Sekarang, sekarang tiba saatnya. :)

Rapunzel, yang punya impian, tak berbeda dengan setiap kita.
Impian yang sejatinya sederhana saja: melihat lentera-lentara itu yang dikiranya sebagai bintang.
Melihat dari dekat, merasakan cahayanya.
Begitu saja.

Aku tidak bilang semua impian itu pasti yang besar dan menjulang tinggi, karena nyatanya semua impian-impian besar itu selalu bermula dari yang kecil.
Semuanya.

Misalnya, well.
Kita ambil contoh Felix saja, teman seangkatan saya yang, yeah whatever, pintar.
Hahaha.
Mungkin dia tidak ingat lagi apa yang menjadi impian pertamanya.
Tapi, kita ambil contoh saja.

Mungkin yang menjadi impian pertamanya adalah dapat nilai bagus di pelajaran matematika.
Selesai, check.
Kemudian, ya nggak berhenti sampai situ aja.
Dia mulai bermimpi jadi juara kelas, lalu menang olimpiade, lalu jadi lulusan terbaik seangkatan, lalu diterima di universitas favorit, lulus (lagi) dengan nilai maksimal, jadi ilmuwan, menemukan teori A, teori A belum cukup sampai harus tercipta teori B, dan begitu seterusnya, impiannya terus diperbaharui.

Atau kalau mau contoh nyata yang bukan karangan, misalnya aku.
Yeah, contoh yang kurang bombastis .. -__- hahaha.
Impian pertamaku mungkin hanya sebatas menulis novel, supaya bisa ngalahin kakak (remember my old stories?).
Setelah itu, seperti halnya Felix, tentu saja aku nggak akan berhenti sampai situ.

Kala aku sudah berhasil membuat beberapa paragraf saja, aku pun mulai bermimpi untuk menyelesaikan novel, lalu membuat novel lagi, lagi dan lagi, sampai suatu saat terbersit ide untuk serius, lalu mengirim salah satu novel ke penerbit, mencoba lagi setelah gagal, membuat novel baru lagi seperti sekarang, bersiap-siap untuk menerbitkan lagi.
Kalau pun buku itu benar-benar terbit, mungkin, well, aku akan bermimpi untuk jadi penulis yang makin diupgrade, karya makin banyak, dan memberkati orang.
Yeah, mungkin.
Semoga. Hahaha.

Karena begitulah manusia..
Kita memang seharusnya memulai hal-hal besar melalui hal-hal sepele dulu.
Hal-hal sepele yang kita pandang dengan bertanggung jawab. :)

Kembali lagi ke Rapunzel.
Sayang, hal-hal sepele itu bukan berarti punya halangan yang sepele pula.
Tak jarang, masalah-masalah yang kita hadapi malah membuat kita menyerah, padahal ya, masalah itu masalah sepele.

Rapunzel juga punya masalahnya sendiri.
Si mama jadi-jadian yang gimbal itu melarangnya untuk pergi, ingat?
Sampai suatu saat, muncullah si Flynn Rider a.k.a Eugene, dan saat itu pula perjalanan Rapunzel yang sesungguhnya dimulai.
Oh yeah, whatever. -__- ha-ha.

Kalau Rapunzel memang hidup, aku yakin dia pasti nggak semudah itu memutuskan untuk keluar dari rumahnya.
Well, mengingat omongan mamanya yang bilang kalau dunia luar itu berbahaya, yeah blahblahblah.
She must be afraid.

Dan rasa itulah, yang sejatinya juga kita perlukan..

Rasa takut itu sebenarnya juga kita perlukan, tentunya dalam dosis tertentu.
Tanpa rasa takut, mungkin kelak saat mimpi itu tercapai, kita nggak akan pernah mendalami artinya isn't it?
Justru dengan rasa takut itu, kita (seharusnya) makin termotivasi, take a move, dan kala mimpi itu sudah tercapai, kita sadar betul apa yang membuat kita berjalan dari titik nol sampai titik atas - kerja keras.

Rumah Rapunzel - or how should I call it? Tower? - sebenarnya juga punya makna bagi kehidupan kita masing-masing.
Kita ini, secara sadar atau pun tidak, cenderung selalu living inside the box.
Takut untuk mengambil resiko, takut dengan apa yang terjadi, dan yang paling parah, takut untuk keluar - padahal di luar sana impian kita hadir dalam bentuk nyata, tinggal menunggu kita untuk keluar dan menggenggamnya.

Layaknya Rapunzel di film itu, memang nggak ada yang instan di dunia ini.
Semuanya butuh proses.
Sekali gagal, bahkan mungkin beberapa kali gagal.
Proses.
Kita mungkin nggak tahu berapa lama it takes time, tapi bukankah yang namanya proses tetap bergerak, dan suatu saat kita akan tiba? :)

Jika kita tetap mendayung, tak peduli seberapa sering ombak menerjang perahu kita, suatu saat, lentera-lentera itu pasti akan terlihat...



Setiap dari kita punya lentera masing-masing yang sudah menunggu di ujung sana.
Hanya saja, terserah dari kita masing-masing hendak melakukan apa.
Entah berdiam diri di menara yang tak lain adalah lingkup hidup kita yang begitu sempit, ataukah mulai keluar menyongsong dunia untuk menghampiri lentera tersebut.

Well, kalau aku..
Aku akan terus mendayung sampai meggapai lentera itu.
Lentera itu, mimpi yang sudah ada di hati ini sejak lama.



Otw to reach my lantern.

Jumat, 03 Desember 2010

Rapunzel: Tangled Tale




Yeah.
We've celebrated the death of Mr. Final Exam.
Hahaha.

So, right, we watched Rapunzel: Tangled Tale. :)
It was freaking awesome and funny, haha.
The worst thing is, when Rapunzel's hair is cut, I thought she became so similar with my dearest friend, Nadia Putri.
Oh dear! :P

Btw, it teaches us about dream too.
Aku udah nafsu sekali buat update blog tentang mimpi itu,tapi kayaknya ga sempet.
Unfortunately.
Padahal saking nafsunya diameter hidungku sudah melebar drastis seperti...


Maximus.

P.S:
We've done with our secret mission! Hahaha. I'll tell you next week ;)

Kamis, 02 Desember 2010

Jingle Bell



Yeah, among other holidays, Christmas holiday is what I like the best. :)
It's already December 2, man!
Woohoo!

I still face my final exams (tomorrow is the last day, haha!), but the Jingle Bell song has started to spin on my mind.

Time flies, it feels like I just celebrated my last 2 years Christmas event at my school - we did 'Christmas Carol' and made christmas tree with bottles.
Last year was the time when we wore same t-shirt - the best class I have ever had, 8B.

Oh but christmas is coming, dear!
Coming very-very soon.

Have you ever recognized it?
Time walks so fast, it feels like christmas-new year-christmas again-new year again-christmas over and over again, and so on.
...
WOW.

Anyway, I'm still excited!

P.S:
Just like our usual ritual, we - Abbey, Angel, Clara and I - will go to Supermal, about to have fun after the final exam, and do some .. well, secret mission. :p