Tampilkan postingan dengan label nulis.nuliis.nuliiis :pp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nulis.nuliis.nuliiis :pp. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

Harmoni Halloween

2nd place, thank God :)
Halloween writing competition @ Petra 1 SHS.


Harmoni Halloween

Baru kusadari, angkasa telah berangsur-angsur berubah gelap nan pekat saat aku keluar dari toilet. Kulirik arloji, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Seragam putih abu-abu masih melekat pada tubuhku, belum pulang sejak tadi demi latihan musik untuk acara halloween sekolah bulan depan.

“Lho, Dik Nathan? Belum pulang? Yang lainnya mana?” ucap seseorang tiba-tiba, membuat jantungku hampir melompat dari tempatnya. Rupanya Pak Saiful, satpam sekolah yang memang sudah mengenalku dan teman-teman band saking seringnya kami berlatih hingga larut. “Yang lainnya udah pada pulang, Pak,” ujarku seraya tersenyum. “Saya juga kok, tapi mau ngambil partitur dulu yang ketinggalan di ruang musik.”

Kulangkahkan kembali kakiku dengan gontai ke ruang musik. Alisku bertaut keheranan ketika sayup-sayup terdengar alunan musik. Siapa di dalam? batinku keheranan. Kuputuskan untuk memutar gagang pintu, tampak seorang gadis berpakaian serba putih tengah duduk membelakangiku bermain keyboard.

“Halo?” Aku menyapanya pelan, ragu. Gadis itu berhenti memainkan lagunya, membalikkan badan dan tampak terkejut. Kulitnya putih langsat, berambut hitam panjang yang tergerai. “Ngg, ya?” Suaranya begitu lembut, nyaris tak terdengar. “Ah, aku cuma kemari buat mengambil partitur yang tertinggal. Ngomong-ngomong, aku Nathan, XIA-1. Namamu siapa? Kelas berapa? Kenapa ke sini malam-malam?” “Na-namaku... Anna. Aku pergi dulu, ya.” Ia bangkit dari kursi, tersenyum sekilas padaku sesaat dan berlalu keluar.

Tampaknya ia seorang gadis pemalu, ujarku dalam hati. Parasnya yang manis masih terekam di benakku, membuatku kian bertanya-tanya siapakah dia.

***

“Rumornya sih, sepuluh tahun lalu ada pengisi acara halloween semacam kita ini yang meninggal sesaat sebelum acaranya dimulai karena kecelakaan. Kalau nggak salah sih, dia pemain keyboard-nya.” Rio, sang gitaris, memasang ekspresi tegang kala berkisah pada kami berempat sebagai selingan latihan. “Semenjak itu, sering ada kejadian aneh di ruang musik ini, apalagi kalau malam-malam latihan acara. Suara alunan keyboard padahal nggak ada orangnya, atau... Yah, semacam itu lah.”

Jason, Kevin, dan Leo tampak mendengarkan kisah Rio dengan antusias. Aku? Masa bodoh dengan rumor. Rumor tetaplah rumor, takkan benar-benar terjadi. Tiba-tiba pikiranku melayang pada kejadian semalam, sosok yang berparas manis itu kembali melintas di otak. Tanpa sadar, senyumku merekah.

***

Semburat langit keemasan oleh matahari yang hendak terbenam pada peristirahatannya tengah mewarnai angkasa. Aku duduk sendiri di bangku taman sekolah menunggu jemputan kakak karena pagi ini tiba-tiba motorku rusak. “Nathan?” Kurasakan seseorang menepuk pundakku.

Aku terbelalak mendapati siapa pemilik suara itu. Mulutku menganga, jantungku seakan berhenti berdetak. Gadis itu! “Anna?!” Ia duduk di sampingku, tersenyum manis. “Iya. Kenapa belum pulang? Sekolah udah sepi...” “Lagi nunggu jemputan, tadi juga baru latihan musik buat acara halloween bulan depan,” ujarku sambil tertawa kecil. “Latihan musik? Ah, aku tahu...,” gumamnya pelan. Mata gadis itu menerawang. “Kamu kenapa?” Aku menatapnya cemas. Ia hanya menggeleng cepat, lantas kembali tersenyum. Kuperhatikan wajahnya selagi ia berbicara padaku. Bentuk wajah itu, caranya memandang dan tersenyum... Semuanya, entah mengapa meletupkan kegembiraanku. Sebuah perasaan absurd yang datangnya dari kalbu.

***

Waktu berjalan secepat hembusan angin, tak terasa membawaku pada malam akbar pentas halloween ini. Performa band kami terbilang sangat sukses. Tentu aku turut merasa bahagia, walau ada sepercik kekecewaan pada malam ini. Anna... Batang hidungnya tak terlihat. Padahal, ialah sosok yang paling kutunggu. Aku telah merencanakan segalanya matang-matang, namun semuanya berantakan. Kutapakkan kaki keluar auditorium tempat acara berlangsung dengan setangkai mawar merah di tangan yang kini tak berarti.

Melewati taman, tiba-tiba pandanganku menangkap siluet seseorang yang familiar. Aku memicingkan mata. Seorang gadis berpakaian putih, rambut tergerai panjang... Tak salah lagi, itu dia! Sekejap dadaku berdebar kencang, menunduk menatap mawar di tangan untuk menenangkan diri. Perlahan kuangkat kembali kepalaku, namun sosok itu sudah lenyap. Ke mana Anna?!

Setengah berlari, kuhampiri seorang cleaning service sekolah yang semenjak tadi membersihkan taman. “Pak, liat cewek yang duduk di bangku itu tadi nggak?” Bapak yang telah cukup renta itu menatapku keheranan. “Siapa? Daritadi di sini nggak ada siapa-siapa, kok.” Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak, aku tak mungkin salah. Itu pasti Anna! Buru-buru kulangkahkan kaki ke bangku taman itu dengan kalap. Tanpa sengaja, kakiku menginjak sesuatu. Sebuah liontin dengan inisial A di depannya. A... Anna?!

Kubuka liontin itu perlahan, mendapati foto seorang gadis sedang bermain piano, juga jepret bersama kawan-kawannya di ruang musik sekolah ini. Dan gadis itu... Anna! Kuamati baik-baik, rupanya ada tahun cetak foto kecil itu. Tunggu dulu... 2001? Kenapa bukan 2011?

Entahlah, masa bodoh! Aku buru-buru menunjukkan foto pada liontin itu. “Ini dia ceweknya, Pak. Tadi dia di sini, kan?” Bapak renta itu memperhatikan foto Anna, kemudian terlonjak ketakutan. “Di-dia... Gadis itu...” “Kenapa, Pak?” “Saya tahu dia. Dia murid sekolah ini yang meninggal oleh kecelakaan 10 tahun yang lalu! Tepat, tepat di malam acara seperti hari ini!”

Sekejap, darahku seolah berhenti mengalir. Meninggal oleh kecelakaan... 2001, sepuluh tahun lalu... Malam halloween... Semua itu menerbangkanku pada rumor yang dikisahkan Rio. Bunga mawar yang ada di tanganku terlepas begitu saja. Jadi selama ini Anna, yang sering mengobrol denganku, juga membuatku jatuh cinta, adalah... Arwah? Mataku berkunang-kunang, kurasakan tubuhku terjatuh di tanah sesaat sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Tamat

Kamis, 25 Agustus 2011

25.08.11

LIFE IS UNPREDICTABLE.
Time flies, and dream comes true...


This is such a surprise for me. :')
Everything has its own time..
And I thank You LORD for answering my prayer, today.

Selasa, 03 Mei 2011

Percakapan Dua Makhluk Oranye

Untuk kedua kalinya dalam hidupku, hari ini sesosok makhluk berbalut pakaian serba oranye datang ke rumahku. Kalau bulan September 2010 lalu Setetes Embun Malam, kali ini Mélodie d'Amour.

Mereka berdua pun bertemu, bak sepasang kawan seperjuangan:

Kiri ke kanan:
Setetes Embun Malam bersama kawan seperjuangannya, Mélodie d'Amour.

Meski sekilas terlihat sama, tapi kedua amplop itu sejatinya tetaplah memiliki beberapa titik perbedaan, yang membuatku menyadari bahwa hidup itu begitu tak mampu diprediksi, berjalan di luar kendali kita.

September 2010 lalu, Setetes Embun Malam mendahuluiku sampai ke rumah, sementara aku sekeluarga masih berlibur di Singapura. Sedangkan April 2011 lalu, bukan amplop Mélodie d'Amour lah yang menampakkan kenyataan terlebih dahulu, tapi sebuah telepon dari sang penerbit.

Namaku tercetak di tengah amplop Mélodie d'Amour dengan lapisan selotip, berbeda dengan Setetes Embun Malam.

Dan satu perbedaan yang paling signifikan...

Baju milik Setetes Embun Malam jauh lebih compang-camping, mengingat kala itu aku merobeknya sedemikian liar saking tak percayanya pada penglihatan sendiri. Sedangkan Mélodie d'Amour? Aku justru mengguntingnya hati-hati, sama sekali tanpa keterkejutan, karena telepon itu sudah berbicara sepenuhnya sebelum ia datang.

Last but not least, aku menguping sedikit percakapan dua makhluk oranye itu.. :p Haha, berikut ulasannya. ;)

MdA: Halo.
SEM: Mélodie d'Amour? Kamu kok bisa di sini? Jadi gimana, berhasil nggak?
MdA: Kalau aku bisa ada di sini, kamu udah tahu jawabannya, kan? ... Aku sama seperti kamu. Nggak, nggak berhasil.
SEM: Namanya juga teman seperjuangan... Hahaha. Tapi yang sabar aja, deh. Pasti kapan-kapan bakal ada teman kita yang baru untuk mewujudkan impian Jesslyn.
MdA: Iya... Semoga aja, ya?
SEM: Uh, kita sama-sama berdoa aja supaya dia nggak gampang nyerah. Asal terus berpegang teguh sama mimpi-mimpinya, aku yakin kok, dia pasti berhasil.
MdA: He'eh. Yah, meskipun impian terbesarnya untuk menerbitkan buku sebelum lulus SMP sudah kandas, tapi toh dia masih punya segudang mimpi-mimpi lainnya. Iya, kan?
SEM: Iya. Dan sekarang, semuanya tergantung dia...
MdA: Aku tahu. Tergantung dia, apa dia memilih untuk kembali bangkit dan berlari, atau justru melepaskan impian-impiannya begitu saja.
SEM: Semoga ada suatu hari yang tiba ya, di mana ia menatap kita berdua lagi dan tersenyum, kemudian bilang, "Ternyata benar, kegagalan adalah awal dari keberhasilan."

Kamis, 28 April 2011

28.04.11

Tanggal 14 September 2010, seharusnya aku tengah menulis untaian kata di blog ini, bercerita akan lembaran hari-hariku di Singapore bersama keluarga saat liburan. Tapi, rencana yang sejatinya telah kususun beberapa hari sebelumnya itu pupuslah sudah oleh kedatangan sebuah "paket spesial". Pengembalian Setetes Embun Malam dengan cap gagal, yang tentu saja membuatku beralih topik dan menulis tentangnya.

Hari ini, tepat tanggal 28 April 2011, seperti dejavu - membawaku terbang dengan mesin waktu merasakan kembali kejadian di masa lalu, namun dengan cara dan situasi yang berbeda. Detik ini, seharusnya aku tengah menulis bagaimana masa perangku dengan Monster Unas sudah usai. Namun, kenyataan yang agaknya penuh pilu membuatku (sekali lagi) berganti topik dan menulis tentangnya...

***



Ukiran Sejarah

Mélodie d'Amour

1. Penjilidan: 09.12.10 - 12:01
2. Pengiriman ke kantor pos: 10.12.10 - 12:51
3. Peneleponan ke Penerbit GagasMedia (#1): 14.03.11 - 15.03
4. Peneleponan ke Penerbit GagasMedia (#2): 06.04.11 - 14:05

Hari ini, tepat tanggal 28 April 2011, ukiran sejarah itu harus menorehkan sebaris kalimat baru...


.
5.
Ditolak: 28.04.11 - 14:39

***

Seperti ritual biasa, hari ini kami berlima - aku, Abbey, Angel, Clara dan Fanie - pergi merayakan kebebasan kami dari jerat Monster Ujian, kali ini UNAS. Dan seperti biasa juga, destinasi kami tak lain dan tak bukan adalah Supermall.

Aku ingat sekali. Diawali dengan duduk di salah satu rumah makan dalam mall itu, Fanie yang duduk di sebelahku tiba-tiba menyeletuk, "Gimana kabar novelmu, Jess?" Dan saat itu, aku cuma berkata ringan kalau sama sekali belum ada kabar dari GagasMedia.

Lalu, di Trimedia beberapa saat kemudian. Aku dan Abbey langsung menuju ke pojok kanan ruangan, tempat novel-novel karya anak bangsa maupun luar negeri diletakkan. Sambil menggenggam novel baru Remember When karya Winna Efendi, Abbey tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan untukku, "Kamu pernah nggak, Jess, bayangin kalau novelmu akan terpajang di antara novel-novel ini? Terus, kamu udah kebayang belum, pengen cover yang gimana?"

"Udah sering." Aku menjawab cepat, sambil tertawa kecil. "Cover? Aku belum mikir sampai sejauh itu. Tapi melihat sebuah novel dengan namaku tercetak di atasnya saja sudah lebih dari cukup, karena itu artinya impianku telah tercapai."

*FAST FORWARD*

Tak begitu lama dari percakapan-percakapan yang rasanya simpel itu, sebenarnya. Usai karaoke, kami berlima langsung ke toko DVD. Mereka berempat yang maniak film berkeliling sana-sini, membuatku tampak seperti alien yang tersesat di Planet Bumi.

Sampai tiba-tiba... Aku merasakan ponselku bergetar. Suara Chipmunk yang kupasang sebagai ringtone berteriak nyaring minta diangkat. Kuraih benda kotak itu dari kantong, terkesiap membaca nama penelepon dan buru-buru keluar dari ruangan itu. Penelepon itu...

GagasMedia.

"Kalau ditolak, naskahmu akan langsung dikembalikan. Tapi kalau diterima, kamu akan menerima e-mail atau telepon dari kami." Kata-kata dari GagasMedia itu dalam sekejap terngiang di telinga, membuatku menekan tombol answer dengan keoptimisan yang membuncah.

***

Kenyataan tak selalu sama dengan imajinasi yang menari dalam kepalamu. Satu kalimat itu kurasa bisa menggambarkan segalanya dengan cukup baik.

Langsung saja. Sejatinya, bukan kabar baik yang kudengar. Penerbit itu hanya menelepon untuk menanyakan alamatku yang lebih jelas, karena naskah Mélodie d'Amour-ku akan segera dikembalikan.

Dengan kata lain... Naskahku ditolak.

Jika kubilang rasanya seperti guntur yang menyambar di telinga, sebenarnya tak begitu berlebihan. Nyatanya memang terdengar seperti itu. Abbey berdiri di sampingku dengan senyum lebar, tapi aku hanya menggeleng tanpa kata.

Seusai sambungan telepon itu putus, aku cuma mengeluarkan satu kata: "Ditolak."

Angel, Clara, dan Fanie setengah berlari menghampiriku kala itu. Mereka yang sepertinya juga kehabisan kata - tak berbeda jauh denganku - hanya mengucapkan namaku berulangkali: "Jess..."

Air mataku luruh. Setetes, dua tetes, tiga tetes... Tak dapat berhenti.

***

Aku tidak akan berpura-pura tegar. Penantian akan kabar Mélodie d'Amour selama lebih dari empat bulan yang berakhir seperti ini bisa dibilang terasa cukup menyakitkan.

Tapi aku tahu, persis seperti kata sahabat-sahabatku itu, aku harus segera menghapus air mataku dan terus melanjutkan perjalanan menyongsong impian itu. Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah, kata mereka berulang kali.

Bahkan waktu Abbey menawarkan tissuenya untukku, Fanie bilang, "Udah Jess, hapus tuh air matanya. Tapi minta tissuenya sekali aja ya, nggak boleh lebih. Soalnya kamu nggak boleh nangis lagi."

Mungkin terkesan hiperbola, tapi seusai mendengar kata-katanya itu, rasanya air mata ini hendak menetes lagi. Kali ini, air mata haru...

Ya. Mereka berlima - baik Abbey, Angel, Clara, maupun Fanie - benar.

Aku tak boleh melepaskan impianku begitu saja. Yah, meski mimpi untuk menerbitkan buku sebelum lulus SMP memang sudah pupus, tapi aku masih punya segudang impian lain yang menunggu untuk bertransformasi menjadi kenyataan.

Mungkin saja SMP bukan waktu yang tepat, tapi hal yang lebih baik lagi sudah menungguku di ujung sana. Di SMA mungkin? - sekali lagi, kata-kata dari mereka berlima yang entah keberapa kalinya mulai menjahit kembali sayapku yang telah koyak sebelumnya.

Aku jadi teringat akan kata-kata seorang guruku, Mr. Wira, di salah satu sesi Pelajaran Karakter. Mimpi itu baru benar-benar disebut impian ketika kamu memperjuangkannya hingga titik darah terakhir. Seperti Martin Luther, misalnya.

Aku juga ingat akan ucapanku tentang impian di berjibun postingan-postingan sebelumnya. Seperti postingan tepat sebelum ini misalnya. "Namun satu hal yang kutahu, apapun yang terjadi, takkan kubiarkan api ini redup, apalagi lenyap terbawa angin.." Dan aku, tentu saja tak ingin kata-kata itu hanyalah menjadi omong kosong belaka.

Satu lagi.. Yah, penantian lebih dari empat bulan yang berakhir gagal ini barangkali menurut orang adalah penantian yang sia-sia. Tapi bagiku, perjalanan ini benar-benar berarti, mengajarkanku banyak hal yang tak terhitung harganya.

Bagaimanapun, aku bukan seorang Superwoman yang punya hati sekuat baja. Terhempas dalam meraih impian tentu saja akan membekaskan segores kesedihan. Aku dan kamu tentu saja sama-sama pernah merasakannya, kan?

Tapi aku cuma ingin mengatakan satu hal. Seperti kata-kata sahabat-sahabatku, kesuksesan itu butuh proses jatuh-bangun. Berhasil tanpa pernah terjatuh? Terdengar janggal, karena sejatinya tak ada kesuksesan yang tak diawali dengan kegagalan. Karena dari kegagalan itulah kita belajar, iya kan?

Percayalah, kalau impianmu akan menjadi kenyataan. :) Aku pun akan melakukan hal yang sama. Dan suatu hari nanti, kita akan sama-sama bertemu di ujung sana, dengan impian di genggaman yang telah menjelma menjadi kenyataan.

Dreams come true...

"If at first you don't succeed, try, try, try again. Success is achieved through an iterative process of learning from mistakes."

***

Setelah mengucurkan air mata beberapa saat, mereka membuatku berhasil tersenyum lepas dan menggelikan seperti ini:


Hebat, ya?
Memang.

P.S: Kurasa hampir mustahil bagimu jika ingin mendapatkan sahabat terbaik, karena yang terbaik telah menjadi milikku. ;) hahaha.

Senin, 25 April 2011

Thrice

Postingan untuk:
24.04.11

Semalam aku kembali bermimpi kalau naskahku, Mélodie d'Amour, ditolak. Bunga tidur itu entah mengapa terasa nyata, terlebih karena mimpi itu telah datang untuk ketiga kalinya dalam tidurku...

Tapi, semua itu takkan menyurutkan impianku. Tanpa bongkahan-bongkahan mimpi ini, apalah jadinya hidupku? Akankah ia mempunyai arti lagi?

Aku sadar. Keluarga dan sahabat-sahabatku, merekalah orang-orang tiada duanya yang mengajariku banyak hal dalam impian ini. Untuk tak letih percaya pada untaian doa yang kupanjatkan, untuk tak pernah menyerah, untuk mengejar mimpi itu sampai kapan pun.

Aku memang tak tahu, apakah akhir bulan ini Mélodie d'Amour akan kembali dengan cap gagal, maupun menjelma menjadi e-mail yang barangkali akan mengubah hidupku sepenuhnya.

Namun satu hal yang kutahu, apapun yang terjadi, takkan kubiarkan api ini redup, apalagi lenyap terbawa angin.. Karena seperti kata sahabatku, Angel, bermimpi itu bukan tentang sejak kapan, tapi sampai kapan.

Jumat, 15 April 2011

...

Dreams, oh dreams, will you transform into reality?

Minggu, 10 April 2011

10.04.11

Hari ini tanggal 10 April 2011.
Tepat empat bulan sejak aku mengirimkan Mélodie d'Amour bersama sebongkah impianku.

Tapi satu hal yang pasti, tak ada secarik amplop oranye yang duduk miris di dalam kotak posku, maupun sebuah e-mail yang akan mengubah hidupku selamanya.

Segala penantian ini masih berlanjut..

Senin, 04 April 2011

W = F.S

Meraih impian itu teorinya sama seperti teori usaha dalam rumus fisika.

W (usaha) = F (gaya) x S (jarak)

Ya, meraih impian itu memang perlu usaha.

Namun kadang kala, ketika kita sudah mendorong kemampuan (baca: gaya) kita semaksimal mungkin, kita justru nggak berani bergerak (baca: jarak) selangkah untuk meraih impian itu. Takut gagal lah, takut ini, takut itu. Padahal, gaya itu nggak ada artinya kalau jaraknya tetap dalam posisi nol.

Seperti aku dulu, misalnya. Menulis siang-malam demi merampungkan sebuah novel, tapi ketika novel itu sudah jadi.. Malah nggak berani mengirimkannya ke penerbit.

Aku sudah menapakkan kaki selangkah, mengirimkan novel itu hampir empat bulan silam demi meraih impianku. Apakah langkah itu benar-benar memberi jarak? Tentu.

Tapi hari ini, pertanyaannya sudah berbeda: apakah usaha yang dihasilkan benar-benar sudah cukup untuk meraih impian?

Kita akan lihat nanti. Belum ada yang tahu, bahkan sampai detik ini.

Lantas, gimana kalau usaha itu benar-benar belum cukup?

Cuma ada dua pilihan: kembali mencurahkan dari awal gaya dan jarak itu untuk menghasilkan usaha yang cukup, atau membiarkan keduanya tetap dalam posisi nol hingga akhir hayat.

Well, semua orang punya cerita masing-masing dalam dunia impiannya. Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau pilih? :)

P.S: Terima kasih untuk Angel - penggagas ide ini sekaligus pengisi baterai semangatku.

Rabu, 30 Maret 2011

Pendar Mimpi

Cerpen untuk Writing Session tanggal 24 Maret 2011, dengan tema yang ditentukan, 'Wishes'. :) Ya, sebuah cerita kilat yang ditulis di sela-sela pembuatan makalah ekonomi. Ha-ha-ha.


Pendar Mimpi



Kepalaku keoranyeanku yang baru saja membara berpendar memancarkan kehangatan tersendiri yang bagiku bak awal kehidupan yang begitu berarti. Tetesan yang perlahan-lahan luruh dari kepala melumuri badan berbentuk angka ‘17’-ku, hangat, nyaman bukan buatan. Semua atmosfir ini, seakan sengaja memanjakanku dalam detik-detik akhir hidup.

Make a wish, Kimberly! Make a wish and blow out the candles!”

Aku mendengar semarak di sekelilingku, menyoraki sang primadona malam ini: Kimberly. Dengan balutan gaun merah marunnya, kulihat seulas senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Gadis itu, tuanku. Gadis itu, pencipta awal kehidupanku—sekaligus gadis yang akan mengakhiri detik-detik bara kebahagiaanku dalam hidup yang singkat ini.

Rambut sepunggung gadis itu menutupi sebagian wajahnya, namun dapat kulihat jelas kala kelopak matanya mulai terpejam. Bibir tipisnya bergoyang-goyang lembut, berucap dalam hati...

Nafasku tercekat. Dadaku bergejolak, jantung ini berdegub di luar kontrol. Ya, katakanlah begitu. Lelehan hangat dari kepalaku yang terbakar masih melumuri tubuh angka ‘17’-ku... Namun kini tak terasa lagi. Ya, aku mati rasa. Perasaan ini, yang selalu menyelubungiku kala aku tahu hidupku akan berakhir sebentar la...

Pfftt...

Tepuk tangan teman-teman gadis bernama Kimberly yang tengah merayakan ulang tahun ketujuh belasnya itu membahana seiring dengan hembusan lembut pada api lilin. Hembusan itu melenyapkan api yang semenit lalu baru saja menyala, membuatnya menjelma menjadi gumpalan asap yang menyeruak dalam ruangan.

Hidupku berakhir, seiring dengan hembusan itu. Satu hal yang kuharap, hanya agar keinginan dan impian tuanku itu menjadi kenyataan...

Dan kalau boleh aku menambahkan satu lagi daftar keinginanku, aku ingin diberi kesempatan untuk kembali hidup... Walau tak lebih dari satu menit seperti momen tadi.

...Sekali Lagi, Sebuah Penantian

Tanggal 30 Maret 2011.
Sudah bisa disebut sebagai akhir bulan, kan?

Antara terasa dan tidak terasa, sudah hampir empat bulan aku menunggu. Dengan sekelumit kegalauan, gejolak dalam dada yang rasanya ingin melompat keluar. Di satu sisi ingin kabar itu segera datang, tapi di sisi lain ingin memperlambat waktu agar diri ini tak perlu menghadap kenyataan yang barangkali penuh pilu.

Yah, mau tidak mau, busur waktu tetap bergerak maju. Dan dalam hitungan hari, bahkan hitungan jam mungkin, sebuah jawaban dari penantianku akan segera tiba...

Mélodie d'Amour, akankah kau menjadi jawaban akan mimpiku selama bertahun-tahun terakhir ini?


*) Postingan ini berkaitan erat dengan ukiran memori tanggal 10.12.10 dan 14.03.11.

Rabu, 23 Maret 2011

Sepasang Rajutan Sayap Baru

23.03.11
Pernahkah kau rasa, kala impian itu terasa begitu jauh untuk digapai, sementara kau seakan sudah merentangkan tanganmu sepanjang yang kau bisa?

Tapi terima kasih Kim A, Fanie, Clara, Angel, Abbey.
Terima kasih sudah datang untuk menyeka air mata ini dan membuatkanku sepasang rajutan sayap untuk kembali terbang.
Seperti kata orang..
Best friend sees the first tear, catches the second, and stops the third.
:)

Jumat, 18 Maret 2011

Sepatah Kata

Sepatah Kata
(Kata Pengantar Secarik Burung Kertas - lanjutan dari postingan sebelumnya)


Puji syukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyertai saya dalam proses pembuatan cerita pendek ini, sehingga dapat selesai tepat pada waktunya. Lebih dari itu, terima kasih kepadaNya karena telah membawa saya kemari... Ke sebuah pulau tempat saya menapakkan kaki untuk menggapai mimpi.

Terima kasih juga yang sebesar-besarnya kepada keluarga dan teman-teman—terutama Abbey, Angel, Clara, dan Fanie—yang telah mendukung saya sepenuhnya untuk merampungkan cerpen ini. Juga, kepada Ma’am Agata dan Ma’am Putri yang telah memberikan kesempatan ini kepada saya dan teman-teman lainnya. Tanpa itu semua, barangkali tak akan pernah terpercik di benak saya untuk membuat cerita tentang kisah hidup saya sendiri. Tak lupa, untuk sosok itu, ‘Harry’, yang secara tidak langsung telah membuat saya kembali tenggelam dalam dunia menulis... Tanpa kamu, barangkali mimpi saya itu sudah dihembuskan angin.

Saya hanyalah seorang gadis biasa. Gadis biasa, yang menguburkan impiannya di lubuk hati terdalam. Gadis biasa, yang terseok-seok melangkah keluar, terbang, sedikit takut terhempas, namun tak dapat berhenti... Gadis biasa, yang mencoba mencurahkan isi mimpinya dalam bilik-bilik kalbu yang telah cukup lama tertimbun, di atas lembaran-lembaran kertas ini.

Sebagian besar cerita ini dibuat berdasarkan kenyataan yang ada, dengan sedikit tambahan pemanis di sana-sini. Sejatinya, cerita ini memang belum selesai, karena saya tahu, perjalanan ini masih panjang. Dan Anda, akan mengerti setelah membacanya.

Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua... Tanpa dukungan kalian, cerita ini tak akan pernah lahir. Dan saya, sampai kapan pun, tak akan pernah mampu terbang.


Jesslyn Chandra

Secarik Burung Kertas



Secarik Burung Kertas
Catatan seorang pemimpi yang berjalan terseok-seok.
2005-2010 :)


Cerpen kisah nyata ini (oke, aku tahu cerpenku sama sekali nggak layak disebut 'cerpen' lagi, mengingat tebal halamannya yang sudah hampir menyerupai novel - 85 halaman) sebenarnya adalah tugas Bahasa Indonesia yang dikumpulkan tanggal 14 Maret 2011 lalu, tapi baru sempat aku tulis di blog ini sekarang.

Cerpen ini merupakan racikan dari 80% kenyataan dan 20% fiksi, dengan tambahan pemanis di sana-sini. Semua ini, kata demi kata, paragraf demi paragraf, aku curahkan untuk menuliskan segala perjalanan ini dalam meraih impian, sejak aku masih menginjak kelas 4 SD hingga tanggal 10 Maret yang lalu.

Kenapa judulnya Secarik Burung Kertas? Ini yang aku bilang pemanis. Di cerita itu, aku tulis, bagaimana aku selalu menulis impianku di secarik burung kertas dan menggantungnya di jendela. Seperti impian-impian itu, yang tergantung dalam bilik kalbuku sekarang...

Aku senang, karena burung-burung kertas itu tak mati. Aku berhasil mengalahkan writer's block dan kegalauan yang berulang kali menyerang, mengingat aku merasa cerpen ini begitu membosankan dengan tema yang kurang mengundang binar mata: mimpi.

Namun, sekalipun burung-burung kertas itu tak mati, jujur, aku juga merasa seakan... Burung-burung kertas itu belum benar-benar hidup. Aku tak tahu apa, tapi aku merasa, rangkaian kata itu masih belum benar-benar... Entahlah. Rasa bahagia membuncah dalam dada ketika tulisanku selesai itu, belum benar-benar terpercik.

However, makasih yang sebesar-besarnya buat semua yang secara langsung maupun tidak ikut membantu aku, kapan pun dan di mana pun. :p Kata pengantarnya, bakal aku post setelah postingan ini :) hahaha.




Mungkin, jika ada kesempatan, suatu saat nanti aku akan membuatmu benar-benar terbang, Secarik Burung Kertas.

Senin, 14 Maret 2011

14.03.11



Mungkin nggak nyambung banget, aku pasang foto Raditya Dika di sini, juga di *psst* Twitter dan laptopku. :p But, setidaknya foto ini akan mengingatkan aku selalu kalau Abbey sempat dengan gilanya taruh gambar ini di laptopku, beberapa saat sebelum aku menelepon nomor itu dan menyadari semuanya.


Hari ini, hari di mana jantungku berdegub lebih kencang dari biasanya. Hari ini, hari di mana keringat dingin terasa di kedua telapak tanganku. Hari ini, hari di mana bulu kudukku berdiri serempak. Dan hari ini pula, hari di mana aku sadar tak seharusnya aku menyerah.

*

Halo, semuanya.

Hari ini tanggal berapa?
Tanggal 14 Maret 2011.

Kapan aku mengirimkan Mélodie d'Amour?
Tanggal 10 Desember 2010.

YA, HARI INI TEPAT TIGA BULAN LEBIH EMPAT HARI SEJAK AKU MENERBANGKAN IMPIANKU.

Which means... KABAR DARI PENERBIT ITU AKAN DATANG, DALAM WAKTU DEKAT INI, TAK SAMPAI SEBULAN LAMANYA.

*

Aku tahu, sudah lama aku menantikan hari-hari ini. Dan kala hari yang dinanti itu telah datang, rasanya diri ini ingin bersembunyi.. Dan melonjak dalam waktu yang bersamaan.

Selepas UAS Biologi tadi (yeah, it sucks), aku ngobrol-ngobrol di kantin bareng Abbey, Clara, Fanie. Angel? Udah keburu pulang karena aku usir, berhubung kita mau ngerjain hadiah ultahnya dia. :p

Ide ini pun tercetus dari mulut Abbey, dia ingetin aku tentang janjiku sendiri, telepon penerbit itu untuk tanya kabar naskahku tepat hari ini, hari Senin. Sepercik rasa muncul dalam dada... Jantung berdenyut di luar kontrol.

Oke, aku tahu, ini saatnya. Aku pun pinjem bbnya Clara untuk buka Twitter, berhubung nomor telepon penerbit itu ada di sana. Internet lemot, lagi-lagi dada bergejolak, hingga akhirnya muncul rangkaian nomor itu di layar ponsel Clara, menandakan kalau aku harus segera... Mengalahkan ketakutan ini.

Aku: "Gila, aku takut banget! Oh, no!"
Mereka: "TELPON! TELPON! TELPON! Ayo Jess, ayo!"

Ini semua benar-benar gila.. Sebelum aku menekan tombol call pun, rasanya udah mau pingsan duluan. Gila banget. Banget. Aku pun perlahan-lahan, menekan tombol call itu, dan... Tuuutt... Nada sambung itu terdengar. Click! Dan aku pun, saking groginya, matiin sambungan telepon itu.

Aku: Aku matiin, huahahaha! Gila, aku takut banget. Beneran.
Mereka: Ayo, Jess! Kapan lagi?! Ayoooo!
Aku: Yeah...

Lagi. Kali ini, kutahan setengah mati hasratku untuk kembali mematikan sambungan telepon. Kala terdengar jawaban di seberang sana, aku langsung.. Nggak tahu apa yang harus aku lakuin, kecuali dengan super slow motion berhalo-halo ria. Kantin bising banget, jadi aku langsung lari keluar, dibuntuti sama Abbey, Clara, Fanie.

Manusia seberang sana: Oh, maaf, Mbak. Krunya lagi istirahat makan siang, telepon jam setengah dua nanti lagi aja ya...

GUBRAK. Rasa membuncah ini, dag-dig-dug setengah mati ini, terasa sia-sia. Tapi, entah mengapa, sebagian dari hati ini terasa lega... Barangkali, lega karena tak harus menatap kenyataan yang mungkin penuh pilu di ujung sana.

Hari di sekolah pun berakhir sampai situ, karena aku harus pulang. Abbey ikut aku, dan di sepanjang perjalanan dia terus ingetin aku dengan tiga kata itu: JAM SETENGAH DUA.

*

Setelah berkutat dengan jutaan angka bareng Ce Ribka (yes it is, aku les sampai galau setengah mati karena aku tahu UAS besok bakal menyiksan banget), aku pun melirik jam yang menunjukkan pukul setengah tiga tepat. Setelah mengantar Ce Ribka keluar, aku langsung ambil jurus Naruto dan melesat ke kamar.

Abbey: TELPON JESS, TELPON!

Jujur, tentu aja aku pengen banget tahu kabar naskahku.. Tapi di saat yang sama, rasa resah ini seakan membentengiku.

Untuk ketiga kalinya, aku memberanikan menekan tombol call itu, sementara Abbey ada di sampingku untuk mengabadikan momen itu lewat video. Tuuutt... Tuuutt... Tuuutt... Dan at the end, NO ANSWER. Yeah. Setelah itu aku coba lagi, dan operator bilang kalau nomor telepon yang aku hubungi SIBUK. Yeah kuadrat...

Abbey: Gila, Jess. Banyak banget halangannya. Hahaha.
Aku: Yeah. Gila! Gila banget. Aku sampe keringet dingin ini...
Abbey: AKU JUGA, TAUK! Aku juga takut, Jess.
Aku: Hah? Ngapain takut juga, coba?
Abbey: Aduh.. Aku pengen yang terbaik buat kamu, tahu.

Aku tercekat... Hahaha. Aku dan Abbey pun langsung menjelma jadi dua manusia unyu, ber-"uh, ah, oh" ria. Aku bisa lihat itu di matanya, tatapan yang benar-benar menyiratkan kalau kata yang barusan dilontarkannya itu memang benar.

Jantung ini berdegub tiga kali lebih cepat, dan aku kembali menekan tombol call. Kali ini terdengar nada sambung, dan... "Halo?" Nafasku berhenti. ketika kulirik, Abbey juga tak jauh berbeda denganku. Aku buru-buru memeluk boneka panda besarku, berusaha menekan segala kegugupan ini.

Aku: Oh, i-iya, Mbak. Mau tanya, ini bisa tanya perihal kabar naskah, ya?
Manusia di seberang sana: Oh, waktu itu kirimnya ke penerbit mana, ya?
Aku: GagasMedia.
Manusia di seberang sana: Oke, tunggu sebentar ya.

*Nada tulilulilut*, si manusia-di-seberang-sana lagi menyambungkan teleponnya ke seseorang, entah siapa. Aku dan Abbey hanya bertatapan, tertawa sebentar walau kami tahu tawa itu tak lebih dari sepenggal tawa gugup.

Dia di sana: Judul naskahnya apa ya, Bu? (Ya, dia memanggil aku dengan sebutan itu -_-)
Aku: Mélodie d'Amour, dari Jesslyn Chandra.
Dia di sana: Mélodie d'Amour... Jesslyn Chandra?
Aku: I-iya.

*dunia berhenti berputar sejenak*

Dia di sana: Oh iya, Bu. Naskahnya masih di redaksi, sedang diproses. Ditunggu sampai akhir bukan ini, ya, atau paling lambat awal bulan depan. Terima kasih.

...

Kalian mau tahu apa yang terjadi padaku kemudian?

Aku mematikan telepon dengan tangan gemetar, serempak memekik bersama Abbey, kami berpelukan, adikku datang, dan dia menyeletuk: Ini lesbi atau apa? Dan setelah itu, aku dan Abbey kembali melonjak, dan aku berjoget di depan cermin. Titik.

*

Aku tahu, aku mungkin termasuk manusia teraneh dengan spesies tergila. Belum tentu novelnya diterima juga, tapi girangnya udah kayak penyanyi dangdut dipanggil ke Amerika buat duet sama Justin Bieber..

But one thing for sure, this is me, aku yang sudah gembira dan bersyukur setengah mati dengan kenyataan bahwa naskahku masih ada di Gagas dan tengah diproses.

Setidaknya, aku tahu ketakutanku kalau naskah itu nggak sampai ke Gagas terbukti nggak beralasan.. Dan aku tahu juga, setidaknya semuanya menjadi lebih baik, karena naskah itu nggak dikembalikan dalam hitungan minggu karena terlalu jelek, seperti apa yang terjadi pada Setetes Embun Malam dulu.

Selepas dari rasa syok yang membekas sana-sini, aku pun mengirimkan pesan singkat buat Angel, Clara, Fanie, dan Abbey sendiri (yang yeah, masih ada di rumahku waktu itu).

"Aku uda telp gagas, katanya naskahhku masih ada di sana, diproses smpe akhr bulan ini! OMG OMG AT LEAST AKU TAU MSH ADA HARAPAN! Thx Jesus, THANK YOU KALIAN! :'D"

Dalam sekejap, balasan-balasan dari mereka semua muncul.

Clara: Wow! Keren jess! Semoga ditrima! :)

Fanie:
Smoga novelm dpt d publish. Amin. Ksh kt grtis y. Wkwkwk :p Gbu

Abbey:
I love you too jess! Keep the faith, and keep reaching ur dream! :)

Angel: Wkwk yoi!! Congrats ya ;) pastilah ad harapan!!!!!! Ciayo GBU!



Kalian tahu ga, rasanya aku bersyukur banget punya sahabat-sahabat kayak kalian.
Berasa jadi orang paling beruntung sedunia.. :p

Tanpa kalian, mungkin aku bahkan nggak pernah bisa sampai sini.
Aku tahu, impianku memang belum sepenuhnya tercapai.
Tapi kalian, kalianlah orangnya, yang mengajarkan aku untuk selalu berani bermimpi, selalu berharap, tetap optimis, dan terus maju pantang mundur. :D

Nggak kebayang apa jadinya tanpa kalian...

Angel, Fanie, Abbey, Clara..
THANKS A LOT.

Tanpa kalian, mungkin seorang Jesslyn nggak akan pernah sadar betapa berharganya hidup itu bila dijalani dengan suka-duka bersama sahabat-sahabat seperti kalian.. :)

I love you.
#nohomo.

Kamis, 10 Maret 2011

10.03.10

Hari ini tanggal 10 Maret 2010.
Tepat tiga bulan yang lalu, aku baru saja menerbangkan impianku..

Mélodie d'Amour.

Mungkin kali ini aku tak punya banyak waktu untuk berbicara.
Namun satu hal yang pasti, hati ini kian berdesir kencang.
Gejolak itu, suatu hal yang abstrak, hingga kapan pun takkan mampu kuungkap lewat kata.

Jumat, 04 Maret 2011

The Journey

Pernah nggak, kalian merasa ingin sekali menggapai impian itu?
Ketika rasa menyeruak memenuhi dada, dan (awalnya) kamu seolah nggak ingin berhenti.

Tapi pernah juga nggak, kalian merasa.. Impian itu seperti jauh sekali.
Ketika kalian sudah mencoba berjalan sejauh mungkin, sampai sekujur tubuh ini terasa lemas, tapi pada akhirnya gagal juga.

...Aku pernah.

Aku ingat benar, ketika waktu itu impianku terhempas dalam hitungan minggu, terhitung setelah rasa percaya membuncah.
Tapi, saat itu, aku merasa.. Yah, mungkin aku masih punya waktu yang cukup, jadi aku bakal berusaha lagi.

Saat itu, masih tertumpu jelas benakku pada impian itu: menerbitkan buku sebelum lulus SMP.

Dan di sinilah aku, kembali memperjuangkan impian itu.
Ya, aku di sini, menunggu mimpi itu untuk membisikkan sesuatu padaku..

Begini. Seandainya kau mencoba meraih impian itu dan terhempas, tapi (setidaknya) masih ada waktu untuk kembali menapaki langkahmu, mungkin kau masih akan terus tersenyum dan maju...

Tapi, jika kali ini adalah harapan terakhir sebelum waktu habis menggerogotimu, apa yang akan kau rasakan?
Tidakkah rasa takut akan rasa terhempas itu akan jauh, jauh lebih besar dari sebelumnya?

...Itulah, itulah yang kurasakan.

Aku punya impian itu sejak 1-2 tahun yang lalu.
Dan seperti yang kubilang, segalanya mungkin akan jauh lebih mudah bila kau tahu kau masih mempunyai waktu.

Tapi... Jika seandainya tidak?

Waktu memang berjalan begitu cepat, menyisakan bulan-bulan terakhirku di bangku SMP yang terasa begitu singkat.
Dan naskah yang sedang aku kirim, masih entah bagaimana kabarnya.

Ya, aku, aku yang bodoh ini, cukup bisa menyentuh tahap galau to the max "hanya" dengan permasalahan di atas.

***

Ketika sedang dalam tahap segalau tadi, dengan ajaibnya, entah bagaimana, aku dapat satu link, video singkat dari perjalanan seorang Raditya Dika.

Perjalanan Mimpi Seorang Raditya Dika.

Setelah nonton video itu, jujur, aku hanya diam dalam bisu.
Rasa gelisah dalam hati ini seakan ingin kumuntahkan sepenuhnya.

***

Aku memang nggak sempurna.
Aku nggak bisa bohong juga, karena nyatanya, kegelisahan itu masih berbekas.

Tapi, satu hal yang aku tahu, Raditya Dika benar.. Jalan menuju impian kadang kasar, keras, dan nggak rata. Tapi selama kita tabah dan terus kerja keras, suatu saat nanti, impian itu akan menjadi kenyataan. :)

Buat siapa pun di dunia ini yang barangkali tengah mengalami hal yang sama seperti yang aku alami, aku cuma mau bilang, supaya kita sama-sama berjuang untuk menggapai impian itu. :D

Berjuang lebih baik, daripada...
Seperti aku: meratapi waktu, galau to the max untuk hal yang belum pasti, dan justru malah stuck dalam ketakutan itu.

Kalau seandainya impian itu memang kembali terhempas sedangkan waktu memang sudah habis, barangkali... Akan ada hasil berbeda yang lebih besar di ujung sana, yang menunggu kita untuk menangkapnya.

Karena seperti kata Raditya Dika, kesempatan itu seperti pintu, ada di mana-mana. Tapi satu hal, kita nggak boleh capek mengetuknya.

Yuk, berjuang untuk impian-impian itu?

Minggu, 27 Februari 2011

Pernahkah Kau Rasa

Check out my short story here! :)

*CLICK.*

Selasa, 22 Februari 2011

PRAYERS.WISHES.DREAMS

Whoaaaa.

Kemarin mungkin tampak nggak berbeda dengan Senin-Senin lainnya. Aku sendiri juga merasa begitu.. sampai aku - yang sudah hampir semaput karena ujian praktek aerobik dan lari 25 putaran - pulang ke rumah.

Kaki yang rasanya mati rasa ini, seakan dihidupkan lagi oleh saraf-saraf entah-apa-namanya dalam sekejap. Darah yang mengalir di seluruh tubuhku kembali berdesir keras. Sementara itu, jantung berdegub seraya berjalan mendekati kotak besar di atas sofa itu.

Awalnya aku juga nggak tahu itu apa.
Tapi ternyata..




21.02.11

100 words, could be a beginning of everything - or nothing, if I just stop.

I'm so lucky to have God - who answers my prayers, family - who hugs my wishes, and friends - who hold my dreams. :)


"Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world."
-Harriet Tubman


And I'll keep going..

Go touch the sky, reach our dreams together. :)

Rabu, 16 Februari 2011

Segores Tinta Manusia Galau

Kalau kalian sedang mengadakan survei untuk mengetahui siapa orang-orang yang sedang berada pada tingkat kegalauan yang ekstrim, barangkali aku akan masuk dalam nominasi Big Five-nya.

Nggak lain lagi, apalagi kalau bukan soal.. Mélodie d'Amour.

Mungkin kalian sudah tahu, kalau 10 Februari lalu adalah hari di mana aku sudah genap mengirimkan Mélodie d'Amour selama dua bulan.
Which is, pemberitahuan apakah salah satu impianku bakal terwujud atau nggak, bakal aku dapat 1 bulan lagi.

Ya, harusnya aku senang.
Tapi nggak, nyatanya aku justru makin gelisah, galau.

Hari ini di sekolah, selagi duduk di samping teman galau saya, Angel, kami berbincang banyak.
Beberapa saat kami diam, dan aku kembali mendapat potongan-potongan memori itu.
Semuanya begitu runtut, bak sebuah rekaman video yang tengah diputar di kepalaku.

Aku jadi teringat, pada Setetes Embun Malam.
Bagaimana syoknya aku waktu itu, ketika naskah itu berbalik padaku laksana bumerang dalam waktu yang sangat-sangat-sangat-sangat singkat.

Bagaimana tidak.
Aku ingat betul, saat itu penerbit yang aku tuju bilang, pemberitahuan seputar naskah akan diberitahukan 5-6 bulan pasca pengiriman novel.
Lah, ini malah kurang dari satu minggu. -_-

Alhasil, waktu itu, aku pun langsung tanya penerbit itu via Facebook.
Dan, bam.
Aku dapat sebuah jawaban yang refleks membuatku menghapus comment itu secepat kilat.

Intinya satu, kasarannya sih, naskah itu terlalu jelek sehingga dikembalikan cepat banget.

Lepas dari itu semua, aku sendiri juga masih bingung, gimana bisa aku bersikap se-"biasa-biasa" itu waktu tahu Setetes Embun Malam gagal.
Mungkin, karena waktu itu aku tahu, aku masih punya waktu yang cukup untuk menggapai impian itu..

Kalau tanya soal impian apa yang paling besar buat sekarang, aku bakal jawab, nerbitin buku sebelum lulus SMP.
Dan the great news is, semua itu cuma tinggal hitungan bulan.

Tolong, jangan salahkan aku kalau aku jadi segalau ini.

Berbagai pertanyaan besar yang mungkin nggak logis muncul di pikiranku secepat kilat, seperti..

Gimana kalau ternyata naskah itu ternyata nggak sampai ke penerbit itu?

Aku bisa mikir seaneh ini, karena well, Setetes Embun Malam saat itu dikembalikan secepat kilat.
Nah, kalau yang Mélodie d'Amour masih belum dikembaliin-dikembaliin juga, apa itu artinya naskah itu nggak se-"terlalu jelek" Setetes Embun Malam, atau justru... Aku nggak bisa mikir lagi.

Oke, lepas dari pikiran nggak logis yang menurutku masih possible itu, aku juga punya banyak pikiran lain yang menghantui.

Kalau seandainya Mélodie d'Amour nggak diterima, it means, nggak akan ada waktu lagi buat impianku yang satu itu.
Secara, bikin novel itu menghabiskan berapa bulan, plus nunggu kabar dari penerbit yang lamanya nggak nanggung-nanggung.
So... Yah, kalian mengerti maksudku.

Mungkin, kalian pikir, aku ini terlalu pesimis.
Dan ya, mungkin memang benar.

Hari ini, aku mengetik post ini bukan untuk bicara panjang-lebar mengenai mimpi.
Hari ini, aku mengetik post ini hanya untuk.. Entahlah.

Seperti yang aku bilang beberapa hari yang lalu, bahwa seringkali satu-satunya hal yang lebih besar dari diri seseorang adalah ketakutannya sendiri.

Tepat seperti yang aku rasakan hari ini.
Tapi bedanya, kali ini aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menunggu, dan mencoba untuk tetap berharap.

Aku memang belum bisa menemukan cara yang tepat untuk menghapus kegalauan ini. :p
Aku boleh saja masih takut, masih gelisah, masih khawatir...

Tapi kuharap, suatu saat nanti aku akan membaca kembali post ini dan tersenyum, seraya berkata, "Semuanya ternyata berakhir baik-baik saja."

Kamis, 10 Februari 2011

2 Months



Sudah dua bulan aku melepasmu, terbang bersama impian-impianku.

Di manakah engkau sekarang?
Bagaimana kabarmu?

Apakah kelak, kau akan datang membawa kabar buruk.. atau menjelma menjadi sebuah e-mail yang akan memutarbalikkan hidupku sepenuhnya?